Wednesday, 6 July 2011

DUNIA YANG PARAH

Sinar pagi membawa cahaya,
Terkadang aku terfikir,
Apakah cahaya itu telah menyinari hati,
Atau sekadar cahaya yang menembusi ruangan mata.
Terkadang aku tertanya,
Apakah sudah hati dibersihkan,
Atau titik-titik hitam itu semakin galak mengotorinya,
Apakah mungkin fitrah hati itu dikembalikan,
Atau ia dibiarkan sakit sepanjang zaman.
Terkadang aku terhibur,
Pada unggas yang berterbangan,
Membebaskan diri dari dibelenggu dunia,
Apakah mungkin hati manusia sudah dibebaskan,
Dari tipu daya dunia yang fana.
Terkadang aku tersentak,
Melihat si kecil yang jatuh dan luka berdarah,
Apakah sudah diri membetulkan kesilapan lalu,
Atau apakah diri masih terus menyakiti Rasulullah,
Hingga tegar memusnahkan kemenangan yang baginda cipta dengan jerih perih,
Bersama air mata dan peluh keringat yang membasahi tubuh.
Terkadang aku terpana,
Pada rerama yang membebaskan diri dari kepompong,
Rerama itu bertatih,
Dengan susah payah menebarkan sayapnya melihat dunia,
Apakah diri setabah itu,
Bertatih dengan kepayahan,
Demi melihat kegemilangan di penghujung usaha.
Namun,
Melihat dunia yang semakin parah,
Ummah semakin hilang arah,
Syaitan ketawa berdekah,
Maksiat berleluasa.
Aku tidak lagi terhibur,
Tidak pula tersentak,
Terpana jauh sekali.
Kerana semua itu,
Sudah menjadi lali,
Tiada lagi istilah terkadang,
Melainkan selalu sahaja.
Hati manusia semakin hilang sensitiviti,
Perkara dosa dianggap biasa,
Perkara pahala dianggap bala.
Oh dunia!
Bila kan tiba penghujungnya?
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al-'Araf :27)

No comments:

Post a Comment